RANGKUMAN
PEMBELAJARAN
INOVATIF II
MATERI
METODE PEMBELAJARAN QUANTUM LEARNING

Dosen Pembimbing
Lestariningsih, S.Pd.,
M.Pd.
Nama Kelompok 1 :
1. Aisyah
Diniyatul Hikmah (1431007)
2. Bhakti
Dewi Prasidha (1431018)
3. Estu
Yen Retno Asun (1431032)
4. Mochamad
Hanafi W (1431051)
5. Umi
Masruroh
(1431083)
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
(STKIP PGRI SIDOARJO)
PRODI PENDIDIKAN MATEMATIKA
TAHUN AJARAN 2016
A. SEJARAH METODE PEMBELAJARAN QUANTUM
LEARNING
Pada awal abad dua puluh, Dewey (dalam Aunurrahmah, 2009:
4-5) menyatakan bahwa belajar berasal dari pengalaman dan keterlibatan aktif
oleh para pelajar. Jean Piaget berpendapat bahwa para pelajar dengan aktif
membangun pengetahuan mereka masing-masing. Strategi Pembelajaran Quantum Learning memusatkan
perhatian pada interaksi makna. Quantum Learning sangat menekankan
kealamiahan dan kewajaran proses pembelajaran.
B.
PENGERTIAN METODE PEMBELAJARAN QUANTUM LEARNING
Pembelajaran Quantum Learning merupakan
salah satu pendekatan pembelajaran yang mengedepankan keaktifan, kebermaknaan
serta suasana lingkungan yang menyenangkan.
C.
KARAKTERISTIK METODE PEMBELAJARAN QUANTUM LEARNING
Menurut (Sugiyanto, 2010:73) metode pembelajaran
Quantum Learning memiliki karakteristik sebagai berikut:
1.
Pembelajaran Quantum
Learning berpangkal pada psikologi kognitif,
2.
Pembelajaran Quantum
Learning lebih bersifat humanis,
3.
Pembelajaran Quantum
Learning lebih bersifat konstruktivistis
4.
Pembelajaran Quantum
Learning memusatkan perhatian pada interaksi yang bermakna.
5.
Pembelajaran Quantum
Learning sangat menekankan pada pemercepatan pembelajaran dengan taraf
keberhasilan tinggi.
6.
Pembelajaran Quantum
Learning sangat menekankan kealamiahan dan kewajaran proses pembelajaran.
7.
Pembelajaran Quantum
Learning sangat menekankan kebermaknaan dan kebermutuan proses
pembelajaran.
8.
Pembelajaran Quantum
Learning memiliki model yang memudahkan konteks dan isi pembelajaran.
9.
Pembelajaran Quantum
Learning memusatkan perhatian pada pembentukan ketrampilan akademis.
10.
Pembelajaran Quantum
Learning menempatkan nilai dan keyakinan sebagai bagian penting proses
pembelajaran.
11.
Pembelajaran Quantum
Learning mengutamakan keberagaman dan kebebasan, bukan keseragaman dan
ketertiban.
12.
Pembelajaran Quantum
Learning mengintegrasikan totalitas tubuh dan pikiran dalam proses
pembelajaran.
D. TUJUAN METODE
PEMBELAJARAN QUANTUM LEARNING
1)
Untuk mengetahui penerapan pembelajaran Quantum Learning pada pembelajaran matematika siswa SMP.
2)
Untuk mengetahui pengaruh yang signifikan, pembelajaran Quantum
Learning terhadap hasil belajar matematika siswa.
3)
Untuk
meningkatkan pemahaman materi pembelajaran matematika siswa.
4)
Untuk
meningkatkan kreativitas siswa.
5)
Untuk
meningkatkan ketercapaian KKM siswa.
6)
Untuk
meningkatkan semangat belajar siswa.
7)
Untuk
meningkatkan prestasi belajar siswa.
E.
PRINSIP-PRINSIP METODE PEMBELAJARAN QUANTUM LEARNING
1) Bawalah
dunia mereka (pembelajar) ke dalam dunia kita (pengajar) dan antarkan dunia
kita (pengajar) ke dalam dunia mereka (pembelajar).
2) Dalam
pembelajaran Quantum Learning berlaku prinsip bahwa proses pembelajaran
merupakan permainan orkes simfoni. Selain memiliki lagu atau partitur,
permainan simfoni ini memiliki struktur dasar chord. Struktur dasar ini dapat
disebut prinsip-prinsip dasar pembelajar Quantum Learning. Prinsip-prinsip
dasar ada lima macam sebagai berikut:
a.
Segalanya Berbicara
Segalannya dari lingkungan kelas hingga bahasa tubuh anda.
b.
Segalanya bertujuan
Semua yang terjadi dalam pengubahan anda
mempunyai tujuan.
c.
Pengalaman sebelum pemberian nama
Proses belajar paling baik terjadi ketika siswa
telah mengalami informasi sebelum mereka memperoleh nama untuk apa yang mereka
pelajari.
d.
Akui setiap usaha
mereka patut mendapat pengakuan atas kecakapan
dan kepercayaan diri mereka.
e.
Jika layak dipelajari, maka layak pula
dirayakan
Perayaan memberikan umpan balik mengenai kemajuan dan meningkatkan
asosiasi emosi positif dengan belajar (DePorter, 2010:36).
3) Dalam
pembelajaran Quantum Learning juga berlaku prinsip bahwa pembelajaran
harus berdampak bagi terbentuknya keunggulan. Adapun prinsip keunggulan sebagai
berikut :
a) Terapkan
hidup dalam integritas
b) Akuilah
kegagalan dapat membawa kesuksesan
c) Berbicara
dengan niat baik
d) Tegaskanlah
komitmen
e) Jadilah
pemilik
f) Tetaplah
lentur
g) Pertahankan
keseimbangan
F. KELEBIHAN METODE
PEMBELAJARAN QUANTUM LEARNING
Menurut Fajar (2012: 9) Kelebihan dari strategi pembelajaran Quantum Learning adalah:
1.
Dapat membimbing
peserta didik kearah berfikir yang sama dalam satu saluran pikiran yang sama.
2.
Karena Quantum
Learning lebih melibatkan siswa.
3.
Karena gerakan
dan proses dipertunjukan maka tidak memerlukan keterangan-keterangan yang
banyak.
4.
Proses
pembelajaran menjadi lebih nyaman dan menyenangkan.
5.
Siswa dirangsang
untuk aktif mengamati, menyesuaikan antara teori dengan kenyataan, dan dapat
mencoba melakukannya sendiri.
6. Karena model pembelajaran Quantum Learning membutuhkan kreativitas dari seorang guru untuk merangsang keinginan
bawaan siswa untuk belajar.
7.
Pelajaran yang diberikan
oleh guru mudah diterima atau dimengerti oleh siswa.
G. KEKURANGAN METODE
PEMBELAJARAN QUANTUM LEARNING
Menurut Fajar (2012: 9) kelemahan dari strategi pembelajaran Quantum
Learning adalah:
1.
Model ini memerlukan kesiapan dan
perencanaan yang matang disamping memerlukan waktu yang cukup panjang.
2.
Fasilitas seperti peralatan,
tempat dan biaya yang memadai tidak selalu tersedia dengan baik.
3.
Karena dalam metode ini ada
perayaan untuk menghormati usaha seseorang siswa baik berupa tepuk tangan,
jentikan jari, nyanyian dll. Maka dapat mengganggu kelas lain.
4.
Banyak memakan waktu dalam hal
persiapan.
5.
Model ini memerlukan keterampilan
guru secara khusus.
6.
Agar belajar dengan model
pembelajaran ini mendapatkan hal yang baik diperlukan ketelitian dan kesabaran.
H.
KERANGKA RANCANGAN
BELAJAR QUANTUM LEARNING
Kerangka rancangan belajar Quantum Learning dikenal
sebagai TANDUR. Kepanjangan dari TANDUR adalah :
1.
Tumbuhkan
Tumbuhkan minat dengan memasukan “Apakah
Manfaatnya Bagiku” (AMBAK), dan manfaatkan kehidupan pelajar.
2.
Alami
Ciptakan atau datangkan pengalaman umum yang dapat
dimengerti semua pelajar.
3.
Namai
Sediakan kata kunci, konsep, model, rumus,
strategi; sebuah “masukan”. Setiap apa yang sudah ditemukan dalam kerja
kelompok, diberi nama dengan menggunakan kata kunci yang mudah dimengerti.
4.
Demonstrasikan
Sediakan kesempatan bagi para pelajar untuk “menunjukan
bahwa mereka tahu”.
5.
Ulangi
Tunjukan kepada siswa cara-cara mengulang
materi dan menegaskan, “aku tahu bahwa memang aku tahu ini”.
6.
Rayakan
Pengakuan untuk penyelesaian, partisipasi dan
pemerolehan ketrampilan dan ilmu pengetahuan. Dapat berupa tepuk tangan atau dapat
berupa pujian (DePorter 2010:39).
I. PENERAPAN METODE DALAM
PEMBELAJARAN QUANTUM LEARNING
Kegiatan
pembelajaran meliputi tiga kegiatan pokok, yaitu kegiatan pendahuluan, kegiatan
inti, dan kegiatan penutup.
Kegiatan pendahuluan,
bertujuan untuk menciptakan suasana awal pembelajaran yang efektif yang
memungkinkan siswa dapat mengikuti proses pembelajaran dengan baik.
Kegiatan inti,
merupakan kegiatan utama dalam proses pembelajaran atau dalam proses penguasaan
pengalaman belajar (learning experience) siswa. Kegiatan penutup, ditujukan untuk dua hal pokok. Pertama, validasi
terhadap konsep. Kedua, pengayaan materi pelajaran yang dikuasai siswa.
DAFTAR PUSTAKA
Aunurrahman.
(2009). Belajar dan Pembelajaran. Bandung: Alfabeta.
A’la, M. (2012). Quantum Teaching (Buku Pintar dan Praktis).
Yogyakarta: DIVA Press.
DePorter, Bobby, Henarcki, Mike. (2004). Quantum Learning-Membiasakan Belajar Nyaman
dan Menyenangkan. Bandung:Kaifa.
DePorter, Bobbi, dkk. (2010). Quantum Teaching : Mempraktikan
Quantum Learning di Ruang-ruang Kelas. Bandung: Kaifa.
Fajar. (2012). “Makalah Model Pembelajaran Quantum Teaching”.
Artikel. Diakses dari http://eduadventure.blogspot.co.id/2012/05/makalah-model-pembelajaran-quantum.html (pada tanggal 25 April 2016, pukul 12.12 WIB)
Sugiyanto. (2010). Model-model Pembelajaran Inovatif.
Surakarta: Yuma Pustaka.
Rangkuman
Pembelajaran
Inovatif II
“Contextual
Teaching and Learning (CTL)”

Dosen
Pembimbing:
Lestariningsih,
S.Pd., M.Pd.
Oleh:
1.
Citra
Windihyanti F. (1431022)
2.
Dewi
Fatmawati (1431026)
3.
Lukmanul
Hakim (1431044)
4.
Sigit
Prasetiyo (1431075)
5.
Afifatuz
Zakkiyah (1431090)
STKIP PGRI SIDOARJO
Jalan Kemiri, Telp.(031) 8950181,
Fax.(031) 8071354, Sidoarjo.
Website : http://stkippgri-sidoarjo.ac.id
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA
2016
Contextual Teaching and Learning (CTL)
1.
Pengertian
CTL adalah konsep pembelajaran yang
melibatkan siswa untuk melihat makna di dalam materi yang dipelajari dan
menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata sehingga mendorong siswa untuk
dapat menerapkannya dalam kehidupan mereka.
2.
Sejarah
CTL telah jauh
dikembangkan oleh ahli-ahli pendidikan dan bukan barang baru, salah satunya
adalah John Dewey, seperti dikatakan Dewey bahwa model pembelajaran ini
dikembangkannya pada tahun 1916, yang ia sebut dengan Learning by doing ini era tahun 1916, kemudian tahun 1970-an konsep
model pembelajaran kontekstual ini lebih dikenal dengan experiential learning, kemudian pada era tahun 1970-1980 lebih
dikenal dengan applied learning, pada
tahun 1990-an model kontekstual ini dikenal dengan school to work. Kemudian pada era tahun 2000-an, model kontekstual
ini lebih efektif digunakan.
3.
Karakteristik
Sofyan dan Amiruddin (2007: 16)
mengemukakan bahwa karakteristik pembelajaran CTL yaitu: (1) Kerjasama; (2) Saling menunjang; (3) Menyenangkan, tidak
membosankan; (4) Belajar dengan bergairah; (5) Pembelajaran terintegrasi; (6)
Menggunakan berbagai sumber; (7) Peserta didik aktif; (8) Sharing dengan teman;
dan (9) Peserta didik kritis dan kreatif.
4.
Prinsip-Prinsip
Menurut Johnson (2008:69) ada tiga
prinsip ilmiah dalam CTL yaitu:
1) Prinsip
Kesaling-bergantungan
2) Prinsip Diferensiasi
3) Prinsip
Pengaturan Diri
5.
Kelebihan
dan Kekurangan
Rusman
(2011: 199) mengemukakan keunggulan pembelajaran CTL, sebagai berikut:
a. Mengembangkan
pemikiran siswa untuk melakukan kegiatan belajar lebih bermakna apakah dengan
cara bekerja sendiri, menemukan sendiri, dan mengkontruksi sendiri pengetahuan
dan keterampilan baru yang baru dimilikinya.
b. Melaksanakan
sejauh mungkin kegiatan inkuiri untuk semua topik yang diajarkan.
c. Mengembangkan
sifat ingin tahu siswa melalui memunculkan pertanyaan-pertanyaan.
d. Menciptakan
masyarakat belajar, seperti melalui kegiatan kelompok berdiskusi, tanya jawab
dan lain sebagainya.
e. Menghadirkan
model sebagai contoh pembelajaran, bisa melalui ilustrasi, model, bahkan media
yang sebenarnya.
f. Membiasakan
anak untuk melakukan refleksi dari setiap kegiatan pembelajaran yang telah
dilakukan.
g. Melakukan
penelian secara objektif, yaitu penilaian kemampuan yang sebenarnya pada setiap
siswa.
Di samping memiliki keunggulan,
pembelajaran dengan menggunakan CTL juga memiliki kelemahan antara lain, bagi
guru kelas, guru harus memiliki kemampuan untuk memahami secara mendalam dan
komprehensif tentang,
a. Konsep
pembelajaran dengan menggunakan CTL itu sendiri, dimana guru harus menyiapkan
pembelajaran sesuai dengan sintaks-sintaks CTL.
b. Pontensi
individual siswa dikelas, dimana guru harus bisa menciptakan masyarakat belajar
di dalam menerapkan model pembelajaran CTL.
c. Beberapa
pendekatan dalam pembelajaran yang berorientasi kepada aktivitas siswa, dimana
guru harus lebih menampilkan aktivitas siswa dengan menggunakan model
pembelajaran CTL.
d. Sarana,
media, alat bantu serta kelengkapan pembelajaran yang menunjang aktivitas siswa
dalam belajar, guru dituntut untuk lebih kreatif dalam hal membuat media, alat
bantu serta kelengkapan pembelajaran.
Sedangkan bagi siswa diperlukan
kemampuan tentang inisiatif dan kreatifitas dalam belajar, memiliki wawasan
pengetahuan yang memadai dari setiap mata pelajaran, adanya perubahan sikap
dalam menghadapi persoalan dan memiliki tanggung jawab pribadi yang tinggi
dalam menyelesaikan tugas-tugas.
6.
Langkah-langkah
1. Pendahuluan
2. Kegiatan
Inti
3. Penutup
Rangkuman
Penerapan Lesson
Study dalam Pembelajaran Matematika
(Makalah
ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Pembelajaran Inovatif II)

Dosen
Pembimbing:
Lestariningsih,
S.Pd., M.Pd.
Disusun
oleh:
1.
Abdul Khakim Kurniawan NIM: 1431001
2.
Ahmad Hariz M. NIM: 1431006
3.
Cicinidia NIM:
1431021
4.
Indah Silvia Hadi NIM: 1431040
5.
Ristia Havadoh E. NIM: 1431069
6.
Rizky Yuniar Hakim NIM: 1431070
STKIP PGRI SIDOARJO
Jalan Kemiri, Telp.(031) 8950181,
Fax.(031) 8071354, Sidoarjo.
Website :http://stkippgri-sidoarjo.ac.id
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA
2016
A.
Sejarah
Lesson Study
Lesson
Study telah berkembang sejak abad 18 di
negara Jepang. Konsep Lesson Study
semakin berkembang pada tahun 1995 berkat kegiatan The Third International
Mathematics and Science Study (TIMSS) yang diikuti
oleh empat puluh satu negara dan ternyata dua puluh satu negara di antaranya
memperoleh skor rata-rata matematika yang secara signifikan lebih tinggi dari
skor rata-rata matemtika di Amerika Serikat.
Di Indonesia, konsep Lesson Study
berkembang melalui program Indonesia Mathematics and Science Teacher
Education Project (IMSTEP) yang diimplementasikan
sejak Oktober tahun 1998 di tiga IKIP
B.
Pengertian
Lesson Study
Lesson
Study bukan sebuah metode atau strategi pembelajaran
tetapi serangkaian kegiatan pembelajaran yang dapat diterapkan di dalamnya
berbagai metode atau strategi pembelajaran yang dianggap efektif dan sesuai
dengan situasi, kondisi, dan permasalahan faktual yang dihadapi guru di dalam
kelas, dan Lesson Study merupakan suatu cara peningkatan mutu pendidikan
yang tak pernah berakhir (continuous improvement), alias inovasi yang
tiada henti.
C.
Ciri-Ciri
Lesson Study
1.
Tujuan bersama untuk jangka panjang.
2.
Materi pelajaran yang penting.
3.
Studi tentang siswa secara cermat.
4.
Observasi pembelajaran secara langsung.
D.
Prinsip-Prinsip Lesson Study
1. Diusahakan
adanya kegiatan hands-on dan mind-on selama pembelajaran tersebut berlangsung,
2. Pembelajaran
diusahakan dapat menyentuh permasalahan yang berhubungan dengan hidupan sehari-hari
siswa,
3. Perencanaan
pembelajaran tersebut mencoba mengembangkan media pembelajaran yang berbasis local materials.
E.
Tahapan
Kegiatan Lesson Study
Lesson
Study terdiri dari 3 tahapan yaitu: perencanaan
(plan), pelaksanaan (do), dan refleksi (see).
F.
Keunggulan
dan Kelemahan Lesson Study
1. Keunggulan
Lesson Study
a. Membantu
guru untuk mengobservasi dan mengkritisi pembelajarannya
b. Meningkatkan
mutu guru dan mutu pembelajaran yang pada gilirannya berakibat pada peningkatan
mutu lulusan
c. Memperbaiki
praktek pembelajaran di kelas
d. Meningkatkan
kolaborasi antar sesama guru dalam pembelajaran
2.
Kelemahan Lesson Study
a. Kurangnya
pemahaman dan komitmen guru mengenai apa, mengapa, dan bagaimana
melaksanakannya.
b. Kurang
terbiasa mengembangkan budaya saling belajar
Rangkuman
Penerapan
Metode Pembelajaran Inkuiry dalam
Pembelajaran Matematika
(Makalah
ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Pembelajaran Inovatif II)

Dosen
Pembimbing:
Lestariningsih,
S.Pd., M.Pd.
Disusun
oleh:
7.
Ahmad Didit Chayono. Nim:
1431005
8.
Anni’mah Manzila Putri Nim: 1431014
9.
Imro’atus Sholichah Nim:
1431038
10.
M. Arya Setiawan Abadi Nim: 1431054
11.
Nia Erlita Parastuti Nim: 1431056
STKIP PGRI SIDOARJO
Jalan Kemiri, Telp.(031) 8950181,
Fax.(031) 8071354, Sidoarjo.
Website :http://stkippgri-sidoarjo.ac.id
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA
2016
A.
Pengertian
Metode Pembelajaran Inkuiri
Metode inkuiri adalah metode
pembelajaran dimana siswa dituntut untuk lebih aktif dalam proses penemuan,
penempatan siswa lebih banyak belajar sendiri serta mengembangkan keaktifan
dalam memecahkan masalah.
B.
Sejarah
Metode Pembelajaran Inkuiri
Model inkuiri pertama kali dikembangkan
oleh Richad Suchman pada tahun 1962 yang memandang hakikat belajar sebagai
latihan berpikir melalui pertanyaan-pertanyaan.
C.
Karakteristik Metode Pembelajaran
Inkuiri
Menurut Sanjaya
(2006 : 197) ada beberapa hal yang menjadi karakteristik utama dalam metode
pembelajaran inkuiri, yaitu :
Metode inkuiri
menekankan kepada aktivitas siswa secara maksimal untuk mencari dan menemukan. metode
pembelajaran inkuiri menempatkan guru bukan sebagai sumber belajar melainkan
sebagai fasilitator dan motivator belajar siswa.
D.
Ciri-ciri
Metode Pembelajaran Inkuiri
a. Jawaban
yang dicari siswa tidak diketahui terlebih dahulu
b. Siswa
berhasrat untuk menemukan pemecahan masalah
c. Suatu
masalah ditemukan dengan pemecahan siswa sendiri
d. Hipotesis
dirumuskan oleh siswa untuk membimbing percobaan atau eksperimen.
e. Para
siswa mengusulkan cara-cara pengumpulan data dengan mengumpulkan data,
mengadakan pengamatan, membaca atau menggunakan sumber lain.
f. Siswa
melakukan penelitian secara individu atau berkelompok untuk mengumpulkan data
yang diperlukan untuk menguji hipotesis tersebut.
g. Siswa
mengolah data sehingga mereka sampai pada kesimpulan.
E.
Prinsip Metode Pembelajaran Inkuiri
a.
Berorientasi
pada pengembangan intelektual
Tujuan
utama dari strategi inkuiri adalah pengembangan kemampuan berpikir.
b.
Prinsip
interaksi
Pembelajaran
adalah proses interaksi, baik interaksi antara siswa maupun interaksi.
c.
Prinsip
bertanya
Kemampuan
guru dalam bertanya pada pembelajaran yang menggunakan metode inkuiri sangat
diperlukan dengan guru, bahkan interaksi antara siswa dengan lingkungan.
d.
Prinsip
belajar untuk berpikir
Belajar
bukan hanya mengingat sejumlah fakta, akan tetapi belajar adalah proses
berpikir, yakni proses mengembangkan potensi seluruh otak.
e.
Prinsip
keterbukaan
Belajar
adalah suatu proses mencoba berbagai kemungkinan. Dalam metode inkuiri, tugas
guru adalah menyediakan ruang untuk memberikan kesempatan kepada siswa mengembangkan
hipotesis dan secara terbuka membuktikan kebenaran hipotesis yang diajukan.
F.
Kelebihan dan Kelemahan Metode Inkuiri
a. Kelebihan Metode Inkuiri :
a. Siswa aktif dalam kegiatan belajar,
sebab ia berfikir sebab ia berfikir dan menggunakan kemampuan untuk hasil akhir
b. Perkembangan cara berpikir ilmiah,
seperti menggali pertanyaan, mencari jawaban, dan menyimpulkan/memperoses
keterangan dengan metode inkuiri dapat dikembangkan seluas-luasnya
c. Dapat melatih anak untuk belajar sendiri
dengan positif sehingga dapat mengembangkan pendidikan demokrasi.
b. Kelemahan metode inkuiri :
a. Belajar mengajar dengan metode inkuiri
memerlukan kecerdasarn anak yang tinggi. Bila anak kurang cerdas, hasilnya
kurang efektif
b. Metode inkuri kurang cocok pada anak
yang usianya terlalu muda, misalnya anak SD.
G.
Langkah-langkah
Adapun
syarat-syarat penerapan metode inkuiri adalah :
a. Merumuskan
topik inkuiri dengan jelas dan bermanfaat bagi siswa
b. Membentuk
kelompok yang seimbang, baik akademik maupun sosial
c. Menjelaskan
tugas dan menyediakan balikan kepada kelompok-kelompok dengan cara yang
responsif dan tepat waktunya.
d. Sekali-kali
perlu intervensi oleh guru agar terjadi interaksi antarpribadi yang sehat dan
demi kemajuan tugas.
e. Melaksanakan
penilaian terhadap kelompok, baik terhadap kemajuan kelompok maupun terhadap
hasil-hasil yang dicapai (Hamalik, 2004 : 65).
RANGKUMAN
STRATEGI PEMBELAJARAN
BERBASIS PROYEK
(PROJECT BASED LEARNING)

Dosen
Pembimbing
Lestariningsih, S.Pd. M.pd.
Nama
Kelompok :
1.
Ach. Suzaini NIM: 1431002
2.
Anggi Anggraeni NIM:
1431012
3.
Dwi Rizki O ktaviani NIM: 1431029
4.
Resty Tirta Risani NIM: 1431067
5.
Veny Ifdinasari NIM: 1431084
STKIP PGRI SIDOARJO
Jalan Kemiri, Telp.(031) 8950181, Fax.(031)
8071354, Sidoarjo.
Website : http://stkippgri-sidoarjo.ac.id
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA
2016
A. Sejarah Pembelajaran Berbasis Proyek
Munculnya
gagasan tentang metode pembelajaran berbasis proyek diawali dengan adanya
metode problem-based learning. Problem-based learning sendiri
berawal dari fenomena di lapangan yaitu banyak dari lulusan pendidikan medis
(kedokteran) yang memiliki pengetahuan faktual dan akademik tinggi namun tidak
mampu menerapkan pengetahuannya dalam penanganan pasien sungguhan. problem-based
learning dikembangkan pada akhir 1960-an untuk tujuan utama yakni digunakan
untuk pelatihan dokter di Universitas McMaster di Ontario, Kanada Setelah mengkaji tentang pendidikan yang
dilakukan terhadap calon tenaga medis maka dikembangkan suatu program
pembelajaran yang menempatkan calon tenaga medis ke dalam situasi simulatif
yang dikenal dengan problem-based learning
B. Pengertian Pembelajaran Berbasis Proyek (PBL)
Pembelajaran
Berbasis Proyek (PBL) merupakan metode belajar yang menggunakan masalah sebagai
langkah awal dalam mengumpulkan dan mengintegrasikan pengetahuan baru
berdasarkan pengalamannya dalam beraktivitas secara nyata. Pembelajaran berbasis proyek dirancang
untuk digunakan pada permasalahan komplek yang diperlukan siswa dalam melakukan
insvestigasi dan memahaminya.
C. Karakteristik Pembelajaran
Berbasis Proyek (PBL)
1.
Siswa
membuat keputusan dan membuat langkah kerja,
2.
Terdapat
masalah yang pemecahan masalahnya tidak ditemukan sebelumnya,
3.
Siswa
merancang proses untuk menyancapai hasil,
4.
Siswa
bertanggung jawab untuk mendapatkan dan mengelola informasi yang dikumpulkan,
5.
Siswa
melakukan evaluasi secara kontinu,
6.
Siswa
secara teratur melihat kembali apa yang mereka kerjakan,
7.
Hasil
akhir berupa produk dan dievaluasi kualitasnya, dan
8.
Kelas
memiliki atmosfir yang memberi toleransi kesalahan dan perubahan.
D. Prisnsip – Prinsip Pembelajaran Berbasis Proyek (PBL)
1.
Prinsip
Sentralistis (centrality) menegaskan
bahwa Pembelajaran Berbasis Proyek merupakan efisiensi dari kurikulum.
2.
Prinsip
Pertanyaa Pendorong / Penuntun (driving
question) berarti bahwa kerja proyek berfokus pada “pertanyaan atau
permasalahan” yang dapat mendorong siswa untuk berjuang
memperoleh konsep atau prinsip utama suatu bidang tertentu.
3.
Prinsip
Investigasi Konstruktif (constructive
investigation) yaitu proses yang mengarah kepada pencapaina tujuan.
4.
Prinsip
otonomi (autonomy) dalam pembelajaran
berbasis proyek dapat diartikan sebagai kemandirian siswa dalam melaksanakan
proses pembelajaran
5.
Prinsip
Realistis (realism) pembelajaan
berbasis proyek harus dapat memberikan perasaan realistis kepada siswa,
termasuk dalam memilih topik, tugas dan peran konteks kerja.
E. Kelebihan Pembelajran Berbasis Proyek (PBL)
a. Meningkatkan kemampuan pemecahan masalah.
b. Membuat siswa menjadi lebih aktif dan berhasil
memecahkan problem – problem yang kompleks.
c. Mendorong siswa untuk mengembangkan dan mempraktikkan
keterampilan komunikasi.
d. Meningkatkan keterampilan siswa dalam mengelola
sumber.
e. Memberikan pengalaman pembelajaran dan praktik kepada
siswa dalam mengorganisasi proyek.
f. Menyediakan pengalaman belajar yang melibatkan siswa
secara kompleks dan dirancang untuk berkembang sesuai dunia nyata.
g. Melibatkan siswa untuk belajar mengambil informasi dan
menunjukkan pengetahuan yang dimiliki, kemudian di implementasikan dengan dunia
nyata.
h. Membuat suasana belajar menjadi menyenangkan, sehingga
siswa maupun guru menikmati proses pembelajaran.
F. Kekurangan Pembelajaran Berbasis Proyek (PBL)
a. Memerlukan banyak waktu untuk menyelesaikan masalah.
b. Membutuhkan biaya dan peralatan yang cukup banyak.
c. Banyak guru yang merasa nyaman dengan kelas
tradisional, di mana guru memegang peran utama di kelas.
d. Siswa yang memiliki kelemahan dalam percobaan dan
pengumpulan informasi akan mengalami kesulitan.
e. Ada kemungkinan siswa yang kurang aktif dalam kerja
kelompok.
f. Ketika topik yang diberikan kepada masing-masing
kelompok berbeda, di khawatirkan siswa tidak bisa memahami topik secara
keseluruhan.
G. Langkah – Langkah Pembelajaran
Berbasis Proyek (PBL)
Penjelasan
Langkah-langkah Pembelajaran Berbasis Proyek sebagai berikut.
1.
Penentuan Pertanyaan Mendasar (Start
With the Essential Question).
Pembelajaran dimulai dengan pertanyaan esensial, yaitu
pertanyaan yang dapat memberi penugasan peserta didik dalam melakukan suatu
aktivitas
2. Mendesain Perencanaan
Proyek (Design a Plan for the Project).
Perencanaan
dilakukan secara kolaboratif antara guru dan siswa. Perencanaan berisi tentang
aturan main.
3.
Menyusun Jadwal (Create a
Schedule)
Guru dan
siswa secara kolaboratif menyusun jadwal aktivitas dalam menyelesaikan proyek.
Aktivitas pada tahap ini antara lain: (1) membuat timeline (2) membuat deadline
penyelesaian proyek, (3) membawa siswa agar merencanakan cara yang baru, (4)
membimbing siswa ketika mereka membuat cara yang tidak berhubungan dengan
proyek, dan (5) meminta siswa untuk membuat penjelasan (alasan) tentang
pemilihan suatu cara.
4.
Memonitor siswa dan kemajuan proyek (Monitor
the Students and the Progress of the Project)
Guru
bertanggung jawab untuk melakukan monitor terhadap aktivitas siswa selama
menyelesaikan proyek.
5.
Menguji Hasil (Assess the
Outcome)
Penilaian
dilakukan untuk membantu guru dalam mengukur ketercapaian standar.
6.
Mengevaluasi Pengalaman (Evaluate the
Experience)
Pada akhir proses
pembelajaran, siswa dan guru melakukan refleksi terhadap aktivitas dan hasil
proyek yang sudah dijalankan. Proses refleksi dilakukan baik secara individu
maupun kelompok.
Rangkuman
Pembelajaran Penemuan Terbimbing
(untuk
memenuhi tugas mata kuliah Pembelajaran Inovativ II)

Dosen
Pembimbing
Lestariningsih, S.Pd. M.pd.
Nama
Anggota Kelompok:
12.
Aizzatur Rohmah Nim: 1431009
13.
Mauidatul jannah Nim: 1431049
14.
Muhammad Zailan Novianto Nim: 1431048
15.
Ristia Havadoh Ervina Nim: 1431069
STKIP PGRI SIDOARJO
Jalan Kemiri, Telp.(031) 8950181,
Fax.(031) 8071354, Sidoarjo.
Website : http://stkippgri-sidoarjo.ac.id
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA
2016
A. Pengertian pembelajaran penemuan terbimbing
Metode penemuan terbimbing merupakan kegiatan
yang membutuhkan keterlibatan guru dalam proses pembelajaran, di mana masalah
dikemukakan oleh guru atau bersumber dari buku teks kemudian siswa berpikir
untuk menemukan jawaban terhadap masalah tersebut di bawah bimbingan intensif
guru.
B. Sejarah
Model penemuan
merupakan model belajar yang dipopulerkan oleh Bruner. Model ini menghendaki
keterlibatan aktif siswa dalam memahami konsep-konsep dan prinsip-prinsip,
sedangkan guru mendorong siswa agar memiliki pengalaman dan melakukan percobaan
yang memungkinkan mereka menemukan prinsip-prinsip untuk diri mereka sendiri.
C.
Karateristik metode penemuan terbimbing
1. mengeksplorasi dan
memecahkan masalah untuk menciptakan, menggabungkan dan menggeneralisasi
pengetahuan;
2. berpusat pada siswa;
3. kegiatan untuk
menggabungkan pengetahuan baru dan pengetahuan yang sudah ada.
D.
Prinsip-prinsip
Metode penemuan terbimbing ialah proses mental dimana siswa mampu
mengasimilasikan suatu konsep atau prinsip. Proses mental yang dimaksud antara
lain: mengamati, mencerna, mengerti, menggolong-golongkan, membuat dugaan,
menjelaskan, mengukur, membuat kesimpulan dan sebagainya. Dengan teknik ini
siswa dibiarkan menemukan sendiri atau mengalami proses mental sendiri, guru
hanya membimbing dan memberikan intruksi. Dengan demikian pembelajaran
penemmuan ialah suatu pembelajaran yang melibatkan siswa dalam proses kegiatan
mental melalui tukar pendapat, dengan berdiskusi, membaca sendiri dan mencoba
sendiri, agar anak dapat belajar sendiri.
Metode pembelajaran penemuan merupakan suatu metode pengajaran yang
menitikberatkan pada aktifitas siswa dalam belajar. Dalam proses pembelajaran
dengan metode ini, guru hanya bertindak sebagai pembimbing dan fasilitator yang
mengarahkan siswa untuk menemukan konsep, dalil, prosedur, algoritma dan
semacamnya.
E.
Langkah-langkah
Adapun langkah-langkah
pembelajaran penemuan terbimbing adalah
1. Fase 1 : pemberian rangsangan (stimulation)
a) Peserta didik dihadapkan pada sesuatu yang
menimbulkan kebingungannya, kemudian dilanjutkan untuk tidak memberi
generalisasi, agar timbul keinginan untuk menyelidiki sendiri.
b) Guru memulai kegiatan pembelajaran dengan
mengajukan pertanyaan, anjuran membaca buku, dan aktivitas belajar lainnya yang
mengarah pada persiapan pemecahan masalah.
c) Stimulasi pada fase ini berfungsi untuk
menyediakan kondisi interaksi belajar yang dapat mengembangkan dan membantu
siswa dalam mengeksplorasi bahan.
2. Fase 2 : identifikasi masalah (problem
identification)
a) Guru memberi kesempatan kepada siswa untuk
mengidentifikasi sebanyak mungkin agenda-agenda masalah yang relevan dengan
bahan pelajaran, kemudian salah satunya dipilih dan dirumuskan dalam bentuk
diajukan.
3. Fase 3 : pengumpulan data (data collection)
a) Ketika eksplorasi berlangsung guru berlangsung
guru juga memberi kesempatan kepada para siswa untuk mengumpulkan informasi
yang relevan sebanyak-banyaknya untuk membuktikan benar atau tidaknya hipotesis
b) Pada tahap ini berfungsi untuk menjawab pertanyaan
atau membuktikan benar tidaknya hipotesis. Dengan demikian peserta didik diberi
kesempatan untuk mengumpulkan data berbagai informasi hipotesis (jawaban
sementara atas pertanyaan masalah).
b) Permasalahan yang dipilih itu selanjutnya
harus dirumuskan dalam bentuk pertanyaan, atau hipotesis, yakni pertanyaan
sebagai jawaban sementara atas pertanyaan yang relevan, membaca literature,
mengamati objek, melakukan uji coba sendiri dan sebagainya.
4. Fase 4 : pengolahan data (data processing)
Pengolahan data merupakan kegiatan mengolah data dari
sumber-sumber informasi yang kemudian ditafsirkan.
5. Fase 5 : pembuktian (verification)
a) Peserta didik melakukan pemeriksaan secara
cermat untuk membuktikan benar atau tidaknya hipotesis yang ditetapkan tadi
dengan temuan alternatif, dihubungkan dengan hasil pengolahan data.
b) Verifikasi Bruner, bertujuan agar proses
belajar akan berjalan dengan baik dan kreatif jika guru memberikan kesempatan
kepada siswa untuk menemukan suatu konsep, teori, aturan atau pemahaman melalui
contoh-contoh yang ia jumpaidalam kehidupannya.
6. Fase 6 :
menarik kesimpulan (generalization)
a) Menarik
kesimpulan adalah proses menarik sebuah kesimpulan yang dapat dijadikan prinsip
umum dan berlaku untuk semua kejadian atau masalah yang sama, dengan
memperhatikan hasil verifikasi.
b) Berdasarkan
hassil verifikasi maka dirumuskan prinsip-prinsip yang mendasari verifikasi.
F.
Kelebihan dan kekurangan
a.
Kelebihan
metode penemuan terbimbing sebagai berikut:
1.
Membantu
siswa memahami konsep dasar dan ide-ide secara lebih baik.
2.
Membantu
dalam menggunakan daya ingat dan transfer pada situasi-situasi proses belajar
yang baru.
3.
Mendorong
siswa berpikir dan bekerja atas ini siatifnya sendiri.
4.
Proses
belajar penemuan dibuat “open-ended” sehingga mendorong siswa berpikir
inisiatif dan merumuskan hipotesisnya sendiri.
5.
Memberikan
kepuasan yang bersifat intrinsik.
6.
Situasi
proses belajar menjadi lebih merangsang.
b.
Kekurangan Metode Penemuan
Terbimbing
1. Untuk
materi tertentu, waktu yang tersita lebih lama.
2. Tidak
semua siswa dapat mengikuti pelajaran dengan cara ini. Di lapangan, beberapa
siswa masih terbiasa dan mudah mengerti dengan metode ceramah.
3. Tidak
semua topik cocok disampaikan dengan metode ini. Umumnya topik-topik yang
berhubungan dengan prinsip dapat dikembangkan dengan metode penemuan
terbimbing.
Cara
untuk mengatasi kekurangan metode ini adalah :
1. Konsep atau prinsip yang harus ditemukan oleh
peserta didik melalui kegiatan tersebut perlu dikemukakan dan di tulis secara
jelas.
2. Susunan kelas diatur sedemikian rupa sehingga
memudahkan terlibatnya arus bebas pikiran peserta didik dalam kegiatan belajar
– mengajar.
3. Guru harus memberikan kesempatan kepada
peserta didik untuk mengumpulkan data.
4. Guru harus memberikan jawaban dengan tepat
dengan data informasi yang diperlukan peserta didik.