Kamis, 23 Juni 2016

Rangkuman

RANGKUMAN
PEMBELAJARAN INOVATIF II
MATERI METODE PEMBELAJARAN QUANTUM LEARNING


Dosen Pembimbing
Lestariningsih, S.Pd., M.Pd.

Nama Kelompok 1 :
1.     Aisyah Diniyatul Hikmah       (1431007)
2.     Bhakti Dewi Prasidha             (1431018)
3.     Estu Yen Retno Asun              (1431032)
4.     Mochamad Hanafi W              (1431051)
5.     Umi Masruroh                         (1431083)

SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
(STKIP PGRI SIDOARJO)
PRODI PENDIDIKAN MATEMATIKA
TAHUN AJARAN 2016



A.    SEJARAH METODE PEMBELAJARAN QUANTUM LEARNING
Pada awal abad  dua puluh, Dewey (dalam Aunurrahmah, 2009: 4-5) menyatakan bahwa belajar berasal dari pengalaman dan keterlibatan aktif oleh para pelajar. Jean Piaget berpendapat bahwa para pelajar dengan aktif membangun pengetahuan mereka masing-masing. Strategi Pembelajaran Quantum Learning memusatkan perhatian pada interaksi makna. Quantum Learning sangat menekankan kealamiahan dan kewajaran proses pembelajaran.
B.     PENGERTIAN METODE PEMBELAJARAN QUANTUM LEARNING
Pembelajaran Quantum Learning merupakan salah satu pendekatan pembelajaran yang mengedepankan keaktifan, kebermaknaan serta suasana lingkungan yang menyenangkan.
C.    KARAKTERISTIK METODE PEMBELAJARAN QUANTUM LEARNING
Menurut (Sugiyanto, 2010:73) metode pembelajaran Quantum Learning memiliki karakteristik sebagai berikut:
1.                   Pembelajaran Quantum Learning berpangkal pada psikologi kognitif,
2.                   Pembelajaran Quantum Learning lebih bersifat humanis,
3.                   Pembelajaran Quantum Learning lebih bersifat konstruktivistis
4.                   Pembelajaran Quantum Learning memusatkan perhatian pada interaksi yang  bermakna.
5.                   Pembelajaran Quantum Learning sangat menekankan pada pemercepatan pembelajaran dengan taraf keberhasilan tinggi.
6.                   Pembelajaran Quantum Learning sangat menekankan kealamiahan dan kewajaran proses pembelajaran.
7.                   Pembelajaran Quantum Learning sangat menekankan kebermaknaan dan kebermutuan proses pembelajaran.
8.                   Pembelajaran Quantum Learning memiliki model yang memudahkan konteks dan isi pembelajaran.
9.                   Pembelajaran Quantum Learning memusatkan perhatian pada pembentukan ketrampilan akademis.
10.               Pembelajaran Quantum Learning menempatkan nilai dan keyakinan sebagai bagian penting proses pembelajaran.
11.               Pembelajaran Quantum Learning mengutamakan keberagaman dan kebebasan, bukan keseragaman dan ketertiban.
12.               Pembelajaran Quantum Learning mengintegrasikan totalitas tubuh dan pikiran dalam proses pembelajaran.
D.    TUJUAN METODE PEMBELAJARAN QUANTUM LEARNING
1)      Untuk mengetahui penerapan pembelajaran Quantum Learning  pada pembelajaran matematika siswa SMP.
2)      Untuk mengetahui pengaruh yang signifikan, pembelajaran Quantum Learning terhadap hasil belajar matematika siswa.
3)      Untuk meningkatkan pemahaman materi pembelajaran matematika siswa.
4)      Untuk meningkatkan kreativitas siswa.
5)      Untuk meningkatkan ketercapaian KKM siswa.
6)      Untuk meningkatkan semangat belajar siswa.
7)      Untuk meningkatkan prestasi belajar siswa.
E.     PRINSIP-PRINSIP METODE PEMBELAJARAN QUANTUM LEARNING
1)      Bawalah dunia mereka (pembelajar) ke dalam dunia kita (pengajar) dan antarkan dunia kita (pengajar) ke dalam dunia mereka (pembelajar).
2)      Dalam pembelajaran Quantum Learning berlaku prinsip bahwa proses pembelajaran merupakan permainan orkes simfoni. Selain memiliki lagu atau partitur, permainan simfoni ini memiliki struktur dasar chord. Struktur dasar ini dapat disebut prinsip-prinsip dasar pembelajar Quantum Learning. Prinsip-prinsip dasar ada lima macam sebagai berikut:
a.      Segalanya Berbicara
Segalannya dari lingkungan kelas hingga bahasa tubuh anda.
b.    Segalanya bertujuan
Semua yang terjadi dalam pengubahan anda mempunyai tujuan.
c.         Pengalaman sebelum pemberian nama
Proses belajar paling baik terjadi ketika siswa telah mengalami informasi sebelum mereka memperoleh nama untuk apa yang mereka pelajari.
d.        Akui setiap usaha
   mereka patut mendapat pengakuan atas kecakapan dan kepercayaan diri mereka.
e.         Jika layak dipelajari, maka layak pula dirayakan
Perayaan memberikan umpan balik mengenai kemajuan dan meningkatkan asosiasi emosi positif dengan belajar (DePorter, 2010:36).
3)      Dalam pembelajaran Quantum Learning juga berlaku prinsip bahwa pembelajaran harus berdampak bagi terbentuknya keunggulan. Adapun prinsip keunggulan sebagai berikut :
a)      Terapkan hidup dalam integritas
b)      Akuilah kegagalan dapat membawa kesuksesan
c)      Berbicara dengan niat baik
d)     Tegaskanlah komitmen
e)      Jadilah pemilik
f)       Tetaplah lentur
g)      Pertahankan keseimbangan
F.     KELEBIHAN METODE PEMBELAJARAN QUANTUM LEARNING
Menurut Fajar (2012: 9) Kelebihan dari strategi pembelajaran Quantum Learning adalah:
1.      Dapat membimbing peserta didik kearah berfikir yang sama dalam satu saluran pikiran yang sama.
2.      Karena Quantum Learning lebih melibatkan siswa.
3.      Karena gerakan dan proses dipertunjukan maka tidak memerlukan keterangan-keterangan yang banyak.
4.      Proses pembelajaran menjadi lebih nyaman dan menyenangkan.
5.      Siswa dirangsang untuk aktif mengamati, menyesuaikan antara teori dengan kenyataan, dan dapat mencoba melakukannya sendiri.
6.      Karena model pembelajaran Quantum Learning membutuhkan kreativitas dari seorang guru untuk merangsang keinginan bawaan siswa untuk belajar.
7.      Pelajaran yang diberikan oleh guru mudah diterima atau dimengerti oleh siswa.
G.    KEKURANGAN METODE PEMBELAJARAN QUANTUM LEARNING
Menurut Fajar (2012: 9) kelemahan dari strategi pembelajaran Quantum Learning adalah:
1.      Model ini memerlukan kesiapan dan perencanaan yang matang disamping memerlukan waktu yang cukup panjang.
2.      Fasilitas seperti peralatan, tempat dan biaya yang memadai tidak selalu tersedia dengan baik.
3.      Karena dalam metode ini ada perayaan untuk menghormati usaha seseorang siswa baik berupa tepuk tangan, jentikan jari, nyanyian dll. Maka dapat mengganggu kelas lain.
4.      Banyak memakan waktu dalam hal persiapan.
5.      Model ini memerlukan keterampilan guru secara khusus.
6.      Agar belajar dengan model pembelajaran ini mendapatkan hal yang baik diperlukan ketelitian dan kesabaran.
H.     KERANGKA RANCANGAN BELAJAR  QUANTUM LEARNING
Kerangka rancangan belajar Quantum Learning dikenal sebagai TANDUR. Kepanjangan dari TANDUR adalah :
1.      Tumbuhkan
Tumbuhkan minat dengan memasukan “Apakah Manfaatnya Bagiku” (AMBAK), dan manfaatkan kehidupan pelajar.
2.      Alami
Ciptakan atau datangkan pengalaman umum yang dapat dimengerti semua pelajar.
3.      Namai
Sediakan kata kunci, konsep, model, rumus, strategi; sebuah “masukan”. Setiap apa yang sudah ditemukan dalam kerja kelompok, diberi nama dengan menggunakan kata kunci yang mudah dimengerti.
4.      Demonstrasikan
Sediakan kesempatan bagi para pelajar untuk “menunjukan bahwa mereka tahu”.
5.      Ulangi
Tunjukan kepada siswa cara-cara mengulang materi dan menegaskan, “aku tahu bahwa memang aku tahu ini”.
6.      Rayakan
Pengakuan untuk penyelesaian, partisipasi dan pemerolehan ketrampilan dan ilmu pengetahuan. Dapat berupa tepuk tangan atau dapat berupa pujian (DePorter 2010:39). 
I.       PENERAPAN METODE DALAM PEMBELAJARAN QUANTUM LEARNING
Kegiatan pembelajaran meliputi tiga kegiatan pokok, yaitu kegiatan pendahuluan, kegiatan inti, dan kegiatan penutup.
Kegiatan pendahuluan, bertujuan untuk menciptakan suasana awal pembelajaran yang efektif yang memungkinkan siswa dapat mengikuti proses pembelajaran dengan baik.
Kegiatan inti, merupakan kegiatan utama dalam proses pembelajaran atau dalam proses penguasaan pengalaman belajar (learning experience) siswa. Kegiatan penutup, ditujukan untuk dua hal pokok. Pertama, validasi terhadap konsep. Kedua, pengayaan materi pelajaran yang dikuasai siswa.
DAFTAR PUSTAKA
Aunurrahman. (2009). Belajar dan Pembelajaran. Bandung: Alfabeta.
A’la, M. (2012). Quantum Teaching (Buku Pintar dan Praktis). Yogyakarta: DIVA Press.
DePorter, Bobby, Henarcki, Mike. (2004). Quantum Learning-Membiasakan Belajar Nyaman dan Menyenangkan. Bandung:Kaifa.
DePorter, Bobbi, dkk. (2010). Quantum Teaching : Mempraktikan Quantum Learning di Ruang-ruang Kelas. Bandung: Kaifa.
Fajar. (2012). “Makalah Model Pembelajaran Quantum Teaching”. Artikel. Diakses dari http://eduadventure.blogspot.co.id/2012/05/makalah-model-pembelajaran-quantum.html (pada tanggal 25 April 2016, pukul 12.12 WIB)
Sugiyanto. (2010). Model-model Pembelajaran Inovatif. Surakarta: Yuma Pustaka.




Rangkuman
Pembelajaran Inovatif II
Contextual Teaching and Learning (CTL)”
stkip.jpg
Dosen Pembimbing:
Lestariningsih, S.Pd., M.Pd.
Oleh:
1.    Citra Windihyanti F. (1431022)
2.    Dewi Fatmawati                   (1431026)
3.    Lukmanul Hakim                 (1431044)
4.    Sigit Prasetiyo                      (1431075)
5.    Afifatuz Zakkiyah                (1431090)

STKIP PGRI SIDOARJO
Jalan Kemiri, Telp.(031) 8950181, Fax.(031) 8071354, Sidoarjo.
Website : http://stkippgri-sidoarjo.ac.id
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA
2016
Contextual Teaching and Learning (CTL)

1.    Pengertian
CTL adalah konsep pembelajaran yang melibatkan siswa untuk melihat makna di dalam materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata sehingga mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan mereka.

2.    Sejarah
CTL telah jauh dikembangkan oleh ahli-ahli pendidikan dan bukan barang baru, salah satunya adalah John Dewey, seperti dikatakan Dewey bahwa model pembelajaran ini dikembangkannya pada tahun 1916, yang ia sebut dengan Learning by doing ini era tahun 1916, kemudian tahun 1970-an konsep model pembelajaran kontekstual ini lebih dikenal dengan experiential learning, kemudian pada era tahun 1970-1980 lebih dikenal dengan applied learning, pada tahun 1990-an model kontekstual ini dikenal dengan school to work. Kemudian pada era tahun 2000-an, model kontekstual ini lebih efektif digunakan.

3.    Karakteristik
Sofyan dan Amiruddin (2007: 16) mengemukakan bahwa karakteristik pembelajaran CTL yaitu: (1) Kerjasama; (2) Saling menunjang; (3) Menyenangkan, tidak membosankan; (4) Belajar dengan bergairah; (5) Pembelajaran terintegrasi; (6) Menggunakan berbagai sumber; (7) Peserta didik aktif; (8) Sharing dengan teman; dan (9) Peserta didik kritis dan kreatif.

4.    Prinsip-Prinsip
Menurut Johnson (2008:69) ada tiga prinsip ilmiah dalam CTL  yaitu:
1)   Prinsip Kesaling-bergantungan
2)   Prinsip Diferensiasi
3)   Prinsip Pengaturan Diri



5.    Kelebihan dan Kekurangan
Rusman (2011: 199) mengemukakan keunggulan pembelajaran CTL, sebagai berikut:
a.    Mengembangkan pemikiran siswa untuk melakukan kegiatan belajar lebih bermakna apakah dengan cara bekerja sendiri, menemukan sendiri, dan mengkontruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan baru yang baru dimilikinya.
b.    Melaksanakan sejauh mungkin kegiatan inkuiri untuk semua topik yang diajarkan.
c.    Mengembangkan sifat ingin tahu siswa melalui memunculkan pertanyaan-pertanyaan.
d.   Menciptakan masyarakat belajar, seperti melalui kegiatan kelompok berdiskusi, tanya jawab dan lain sebagainya.
e.    Menghadirkan model sebagai contoh pembelajaran, bisa melalui ilustrasi, model, bahkan media yang sebenarnya.
f.     Membiasakan anak untuk melakukan refleksi dari setiap kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan.
g.    Melakukan penelian secara objektif, yaitu penilaian kemampuan yang sebenarnya pada setiap siswa.
Di samping memiliki keunggulan, pembelajaran dengan menggunakan CTL juga memiliki kelemahan antara lain, bagi guru kelas, guru harus memiliki kemampuan untuk memahami secara mendalam dan komprehensif tentang,
a.    Konsep pembelajaran dengan menggunakan CTL itu sendiri, dimana guru harus menyiapkan pembelajaran sesuai dengan sintaks-sintaks CTL.
b.    Pontensi individual siswa dikelas, dimana guru harus bisa menciptakan masyarakat belajar di dalam menerapkan model pembelajaran CTL.
c.    Beberapa pendekatan dalam pembelajaran yang berorientasi kepada aktivitas siswa, dimana guru harus lebih menampilkan aktivitas siswa dengan menggunakan model pembelajaran CTL.
d.   Sarana, media, alat bantu serta kelengkapan pembelajaran yang menunjang aktivitas siswa dalam belajar, guru dituntut untuk lebih kreatif dalam hal membuat media, alat bantu serta kelengkapan pembelajaran.
Sedangkan bagi siswa diperlukan kemampuan tentang inisiatif dan kreatifitas dalam belajar, memiliki wawasan pengetahuan yang memadai dari setiap mata pelajaran, adanya perubahan sikap dalam menghadapi persoalan dan memiliki tanggung jawab pribadi yang tinggi dalam menyelesaikan tugas-tugas.

6.    Langkah-langkah
1.      Pendahuluan
2.      Kegiatan Inti
3.      Penutup


Rangkuman
Penerapan Lesson Study dalam Pembelajaran Matematika
(Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Pembelajaran Inovatif II)


Dosen Pembimbing:
Lestariningsih, S.Pd., M.Pd.
Disusun oleh:
1.    Abdul Khakim Kurniawan                    NIM: 1431001
2.    Ahmad Hariz M.                                    NIM: 1431006
3.    Cicinidia                                                            NIM: 1431021
4.    Indah Silvia Hadi                                  NIM: 1431040
5.    Ristia Havadoh E.                                 NIM: 1431069
6.    Rizky Yuniar Hakim                              NIM: 1431070

STKIP PGRI SIDOARJO
Jalan Kemiri, Telp.(031) 8950181, Fax.(031) 8071354, Sidoarjo.
Website :http://stkippgri-sidoarjo.ac.id
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA
2016






A.      Sejarah Lesson Study
Lesson Study telah berkembang sejak abad 18 di negara Jepang. Konsep Lesson Study semakin berkembang pada tahun 1995 berkat kegiatan The Third International Mathematics and Science Study (TIMSS) yang diikuti oleh empat puluh satu negara dan ternyata dua puluh satu negara di antaranya memperoleh skor rata-rata matematika yang secara signifikan lebih tinggi dari skor rata-rata matemtika di Amerika Serikat.
Di Indonesia, konsep Lesson Study berkembang melalui program Indonesia Mathematics and Science Teacher Education Project (IMSTEP) yang diimplementasikan sejak Oktober tahun 1998 di tiga IKIP
B.     Pengertian Lesson Study
Lesson Study bukan sebuah metode atau strategi pembelajaran tetapi serangkaian kegiatan pembelajaran yang dapat diterapkan di dalamnya berbagai metode atau strategi pembelajaran yang dianggap efektif dan sesuai dengan situasi, kondisi, dan permasalahan faktual yang dihadapi guru di dalam kelas, dan Lesson Study merupakan suatu cara peningkatan mutu pendidikan yang tak pernah berakhir (continuous improvement), alias inovasi yang tiada henti.
C.     Ciri-Ciri Lesson Study
1.      Tujuan bersama untuk jangka panjang.
2.      Materi pelajaran yang penting.
3.      Studi tentang siswa secara cermat.
4.      Observasi pembelajaran secara langsung.
D.     Prinsip-Prinsip Lesson Study
1.      Diusahakan adanya kegiatan hands-on dan mind-on selama pembelajaran tersebut berlangsung,
2.      Pembelajaran diusahakan dapat menyentuh permasalahan yang berhubungan dengan hidupan sehari-hari siswa,
3.      Perencanaan pembelajaran tersebut mencoba mengembangkan media pembelajaran yang berbasis local materials.
E.     Tahapan Kegiatan Lesson Study
Lesson Study terdiri dari 3 tahapan yaitu: perencanaan (plan), pelaksanaan (do), dan refleksi (see).
F.      Keunggulan dan Kelemahan Lesson Study
1.      Keunggulan Lesson Study
a.       Membantu guru untuk mengobservasi dan mengkritisi pembelajarannya
b.      Meningkatkan mutu guru dan mutu pembelajaran yang pada gilirannya berakibat pada peningkatan mutu lulusan
c.       Memperbaiki praktek pembelajaran di kelas
d.      Meningkatkan kolaborasi antar sesama guru dalam pembelajaran
2.      Kelemahan Lesson Study
a.       Kurangnya pemahaman dan komitmen guru mengenai apa, mengapa, dan bagaimana melaksanakannya.
b.      Kurang terbiasa mengembangkan budaya saling belajar




Rangkuman
Penerapan Metode Pembelajaran Inkuiry dalam Pembelajaran Matematika
(Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Pembelajaran Inovatif II)


Dosen Pembimbing:
Lestariningsih, S.Pd., M.Pd.
Disusun oleh:
7.      Ahmad Didit Chayono.                Nim: 1431005
8.      Anni’mah Manzila Putri                Nim: 1431014
9.      Imro’atus Sholichah                      Nim: 1431038
10.  M. Arya Setiawan Abadi              Nim: 1431054
11.  Nia Erlita Parastuti                        Nim: 1431056


STKIP PGRI SIDOARJO
Jalan Kemiri, Telp.(031) 8950181, Fax.(031) 8071354, Sidoarjo.
Website :http://stkippgri-sidoarjo.ac.id
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA
2016

A.    Pengertian Metode Pembelajaran Inkuiri
Metode inkuiri adalah metode pembelajaran dimana siswa dituntut untuk lebih aktif dalam proses penemuan, penempatan siswa lebih banyak belajar sendiri serta mengembangkan keaktifan dalam memecahkan masalah.
B.      Sejarah Metode Pembelajaran Inkuiri
Model inkuiri pertama kali dikembangkan oleh Richad Suchman pada tahun 1962 yang memandang hakikat belajar sebagai latihan berpikir melalui pertanyaan-pertanyaan.
C.    Karakteristik Metode Pembelajaran Inkuiri
Menurut Sanjaya (2006 : 197) ada beberapa hal yang menjadi karakteristik utama dalam metode pembelajaran inkuiri, yaitu :
Metode inkuiri menekankan kepada aktivitas siswa secara maksimal untuk mencari dan menemukan. metode pembelajaran inkuiri menempatkan guru bukan sebagai sumber belajar melainkan sebagai fasilitator dan motivator belajar siswa.
D.    Ciri-ciri Metode Pembelajaran Inkuiri
a.       Jawaban yang dicari siswa tidak diketahui terlebih dahulu
b.      Siswa berhasrat untuk menemukan pemecahan masalah
c.       Suatu masalah ditemukan dengan pemecahan siswa sendiri
d.      Hipotesis dirumuskan oleh siswa untuk membimbing percobaan atau eksperimen.
e.       Para siswa mengusulkan cara-cara pengumpulan data dengan mengumpulkan data, mengadakan pengamatan, membaca atau menggunakan sumber lain.
f.       Siswa melakukan penelitian secara individu atau berkelompok untuk mengumpulkan data yang diperlukan untuk menguji hipotesis tersebut.
g.      Siswa mengolah data sehingga mereka sampai pada kesimpulan.
E.     Prinsip Metode Pembelajaran Inkuiri
a.       Berorientasi pada pengembangan intelektual
Tujuan utama dari strategi inkuiri adalah pengembangan kemampuan berpikir.
b.      Prinsip interaksi
Pembelajaran adalah proses interaksi, baik interaksi antara siswa maupun interaksi.
c.       Prinsip bertanya
Kemampuan guru dalam bertanya pada pembelajaran yang menggunakan metode inkuiri sangat diperlukan dengan guru, bahkan interaksi antara siswa dengan lingkungan.
d.      Prinsip belajar untuk berpikir
Belajar bukan hanya mengingat sejumlah fakta, akan tetapi belajar adalah proses berpikir, yakni proses mengembangkan potensi seluruh otak.
e.       Prinsip keterbukaan
Belajar adalah suatu proses mencoba berbagai kemungkinan. Dalam metode inkuiri, tugas guru adalah menyediakan ruang untuk memberikan kesempatan kepada siswa mengembangkan hipotesis dan secara terbuka membuktikan kebenaran hipotesis yang diajukan.
F.     Kelebihan dan Kelemahan Metode Inkuiri
a.       Kelebihan Metode Inkuiri :
a.       Siswa aktif dalam kegiatan belajar, sebab ia berfikir sebab ia berfikir dan menggunakan kemampuan untuk hasil akhir
b.      Perkembangan cara berpikir ilmiah, seperti menggali pertanyaan, mencari jawaban, dan menyimpulkan/memperoses keterangan dengan metode inkuiri dapat dikembangkan seluas-luasnya
c.       Dapat melatih anak untuk belajar sendiri dengan positif sehingga dapat mengembangkan pendidikan demokrasi.
b.      Kelemahan metode inkuiri :
a.       Belajar mengajar dengan metode inkuiri memerlukan kecerdasarn anak yang tinggi. Bila anak kurang cerdas, hasilnya kurang efektif
b.      Metode inkuri kurang cocok pada anak yang usianya terlalu muda, misalnya anak SD.
G.    Langkah-langkah
Adapun syarat-syarat penerapan metode inkuiri adalah :
a.       Merumuskan topik inkuiri dengan jelas dan bermanfaat bagi siswa
b.      Membentuk kelompok yang seimbang, baik akademik maupun sosial
c.       Menjelaskan tugas dan menyediakan balikan kepada kelompok-kelompok dengan cara yang responsif dan tepat waktunya.
d.      Sekali-kali perlu intervensi oleh guru agar terjadi interaksi antarpribadi yang sehat dan demi kemajuan tugas.
e.       Melaksanakan penilaian terhadap kelompok, baik terhadap kemajuan kelompok maupun terhadap hasil-hasil yang dicapai (Hamalik, 2004 : 65).



RANGKUMAN
STRATEGI PEMBELAJARAN BERBASIS PROYEK
(PROJECT BASED LEARNING)

logo stkip

Dosen Pembimbing
Lestariningsih, S.Pd. M.pd.

  Nama Kelompok  :

1.        Ach. Suzaini                            NIM: 1431002
2.        Anggi Anggraeni                      NIM: 1431012
3.        Dwi Rizki O         ktaviani                NIM: 1431029
4.        Resty Tirta Risani                             NIM: 1431067
5.        Veny Ifdinasari                        NIM: 1431084


STKIP PGRI SIDOARJO
Jalan Kemiri, Telp.(031) 8950181, Fax.(031) 8071354, Sidoarjo.
Website : http://stkippgri-sidoarjo.ac.id
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA
2016


A.    Sejarah Pembelajaran Berbasis Proyek
Munculnya gagasan tentang metode pembelajaran berbasis proyek diawali dengan adanya metode problem-based learning. Problem-based learning sendiri berawal dari fenomena di lapangan yaitu banyak dari lulusan pendidikan medis (kedokteran) yang memiliki pengetahuan faktual dan akademik tinggi namun tidak mampu menerapkan pengetahuannya dalam penanganan pasien sungguhan. problem-based learning dikembangkan pada akhir 1960-an untuk tujuan utama yakni digunakan untuk pelatihan dokter di Universitas McMaster di Ontario, Kanada  Setelah mengkaji tentang pendidikan yang dilakukan terhadap calon tenaga medis maka dikembangkan suatu program pembelajaran yang menempatkan calon tenaga medis ke dalam situasi simulatif yang dikenal dengan problem-based learning
B.  Pengertian Pembelajaran Berbasis Proyek (PBL)
Pembelajaran Berbasis Proyek (PBL) merupakan metode belajar yang menggunakan masalah sebagai langkah awal dalam mengumpulkan dan mengintegrasikan pengetahuan baru berdasarkan pengalamannya dalam beraktivitas secara nyata. Pembelajaran berbasis proyek dirancang untuk digunakan pada permasalahan komplek yang diperlukan siswa dalam melakukan insvestigasi dan memahaminya.
C.  Karakteristik Pembelajaran Berbasis Proyek (PBL)
1.      Siswa membuat keputusan dan membuat langkah kerja,
2.      Terdapat masalah yang pemecahan masalahnya tidak ditemukan sebelumnya,
3.      Siswa merancang proses untuk menyancapai hasil,
4.      Siswa bertanggung jawab untuk mendapatkan dan mengelola informasi yang dikumpulkan,
5.      Siswa melakukan evaluasi secara kontinu,
6.      Siswa secara teratur melihat kembali apa yang mereka kerjakan,
7.      Hasil akhir berupa produk dan dievaluasi kualitasnya, dan
8.      Kelas memiliki atmosfir yang memberi toleransi kesalahan dan perubahan.
D.    Prisnsip – Prinsip Pembelajaran Berbasis Proyek (PBL)
1.      Prinsip Sentralistis (centrality) menegaskan bahwa Pembelajaran Berbasis Proyek merupakan efisiensi dari kurikulum.
2.      Prinsip Pertanyaa Pendorong / Penuntun (driving question) berarti bahwa kerja proyek berfokus pada “pertanyaan atau permasalahan” yang dapat mendorong siswa untuk berjuang memperoleh konsep atau prinsip utama suatu bidang tertentu.
3.      Prinsip Investigasi Konstruktif (constructive investigation) yaitu proses yang mengarah kepada pencapaina tujuan.
4.      Prinsip otonomi (autonomy) dalam pembelajaran berbasis proyek dapat diartikan sebagai kemandirian siswa dalam melaksanakan proses pembelajaran
5.      Prinsip Realistis (realism) pembelajaan berbasis proyek harus dapat memberikan perasaan realistis kepada siswa, termasuk dalam memilih topik, tugas dan peran konteks kerja.
E.     Kelebihan Pembelajran Berbasis Proyek (PBL)
a.       Meningkatkan kemampuan pemecahan masalah.
b.      Membuat siswa menjadi lebih aktif dan berhasil memecahkan problem – problem yang kompleks.
c.       Mendorong siswa untuk mengembangkan dan mempraktikkan keterampilan komunikasi.
d.      Meningkatkan keterampilan siswa dalam mengelola sumber.
e.       Memberikan pengalaman pembelajaran dan praktik kepada siswa dalam mengorganisasi proyek.
f.       Menyediakan pengalaman belajar yang melibatkan siswa secara kompleks dan dirancang untuk berkembang sesuai dunia nyata.
g.      Melibatkan siswa untuk belajar mengambil informasi dan menunjukkan pengetahuan yang dimiliki, kemudian di implementasikan dengan dunia nyata.
h.      Membuat suasana belajar menjadi menyenangkan, sehingga siswa maupun guru menikmati proses pembelajaran.
F.     Kekurangan Pembelajaran Berbasis Proyek (PBL)
a.     Memerlukan banyak waktu untuk menyelesaikan masalah.
b.     Membutuhkan biaya dan peralatan yang cukup banyak.
c.      Banyak guru yang merasa nyaman dengan kelas tradisional, di mana guru memegang peran utama di kelas.
d.     Siswa yang memiliki kelemahan dalam percobaan dan pengumpulan informasi akan mengalami kesulitan.
e.      Ada kemungkinan siswa yang kurang aktif dalam kerja kelompok.
f.       Ketika topik yang diberikan kepada masing-masing kelompok berbeda, di khawatirkan siswa tidak bisa memahami topik secara keseluruhan.
G.    Langkah – Langkah  Pembelajaran Berbasis Proyek (PBL)
Penjelasan Langkah-langkah Pembelajaran Berbasis Proyek sebagai berikut.
1.      Penentuan Pertanyaan Mendasar (Start With the Essential Question).
Pembelajaran dimulai dengan pertanyaan esensial, yaitu pertanyaan yang dapat memberi penugasan peserta didik dalam melakukan suatu aktivitas
2.      Mendesain Perencanaan Proyek (Design a Plan for the Project).
Perencanaan dilakukan secara kolaboratif antara guru dan siswa. Perencanaan berisi tentang aturan main.
3.      Menyusun Jadwal (Create a Schedule)
Guru dan siswa secara kolaboratif menyusun jadwal aktivitas dalam menyelesaikan proyek. Aktivitas pada tahap ini antara lain: (1) membuat timeline (2) membuat deadline penyelesaian proyek, (3) membawa siswa agar merencanakan cara yang baru, (4) membimbing siswa ketika mereka membuat cara yang tidak berhubungan dengan proyek, dan (5) meminta siswa untuk membuat penjelasan (alasan) tentang pemilihan suatu cara.
4.      Memonitor siswa dan kemajuan proyek (Monitor the Students and the Progress of the Project)
Guru bertanggung jawab untuk melakukan monitor terhadap aktivitas siswa selama menyelesaikan proyek.
5.      Menguji Hasil (Assess the Outcome)
Penilaian dilakukan untuk membantu guru dalam mengukur ketercapaian standar.
6.      Mengevaluasi Pengalaman (Evaluate the Experience)
Pada akhir proses pembelajaran, siswa dan guru melakukan refleksi terhadap aktivitas dan hasil proyek yang sudah dijalankan. Proses refleksi dilakukan baik secara individu maupun kelompok.




Rangkuman
Pembelajaran Penemuan Terbimbing
(untuk memenuhi tugas mata kuliah Pembelajaran Inovativ II)

                                                    


Dosen Pembimbing
Lestariningsih, S.Pd. M.pd.

Nama Anggota Kelompok:
12.  Aizzatur Rohmah                          Nim: 1431009
13.  Mauidatul jannah                         Nim: 1431049
14.  Muhammad Zailan Novianto        Nim: 1431048
15.  Ristia Havadoh Ervina                  Nim: 1431069

STKIP PGRI SIDOARJO
Jalan Kemiri, Telp.(031) 8950181, Fax.(031) 8071354, Sidoarjo.
Website : http://stkippgri-sidoarjo.ac.id
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA
     2016


A.    Pengertian pembelajaran penemuan terbimbing

Metode penemuan terbimbing merupakan kegiatan yang membutuhkan keterlibatan guru dalam proses pembelajaran, di mana masalah dikemukakan oleh guru atau bersumber dari buku teks kemudian siswa berpikir untuk menemukan jawaban terhadap masalah tersebut di bawah bimbingan intensif guru.

B.   Sejarah

Model penemuan merupakan model belajar yang dipopulerkan oleh Bruner. Model ini menghendaki keterlibatan aktif siswa dalam memahami konsep-konsep dan prinsip-prinsip, sedangkan guru mendorong siswa agar memiliki pengalaman dan melakukan percobaan yang memungkinkan mereka menemukan prinsip-prinsip untuk diri mereka sendiri.

C.   Karateristik metode penemuan terbimbing

1.    mengeksplorasi dan memecahkan masalah untuk menciptakan, menggabungkan dan menggeneralisasi pengetahuan;
2.    berpusat pada siswa;
3.    kegiatan untuk menggabungkan pengetahuan baru dan pengetahuan yang sudah ada.

D.   Prinsip-prinsip

Metode penemuan terbimbing ialah proses mental dimana siswa mampu mengasimilasikan suatu konsep atau prinsip. Proses mental yang dimaksud antara lain: mengamati, mencerna, mengerti, menggolong-golongkan, membuat dugaan, menjelaskan, mengukur, membuat kesimpulan dan sebagainya. Dengan teknik ini siswa dibiarkan menemukan sendiri atau mengalami proses mental sendiri, guru hanya membimbing dan memberikan intruksi. Dengan demikian pembelajaran penemmuan ialah suatu pembelajaran yang melibatkan siswa dalam proses kegiatan mental melalui tukar pendapat, dengan berdiskusi, membaca sendiri dan mencoba sendiri, agar anak dapat belajar sendiri.
Metode pembelajaran penemuan merupakan suatu metode pengajaran yang menitikberatkan pada aktifitas siswa dalam belajar. Dalam proses pembelajaran dengan metode ini, guru hanya bertindak sebagai pembimbing dan fasilitator yang mengarahkan siswa untuk menemukan konsep, dalil, prosedur, algoritma dan semacamnya.

E.       Langkah-langkah
Adapun langkah-langkah pembelajaran penemuan terbimbing adalah
1. Fase 1        : pemberian rangsangan (stimulation)
a)  Peserta didik dihadapkan pada sesuatu yang menimbulkan kebingungannya, kemudian dilanjutkan untuk tidak memberi generalisasi, agar timbul keinginan untuk menyelidiki sendiri.
b)  Guru memulai kegiatan pembelajaran dengan mengajukan pertanyaan, anjuran membaca buku, dan aktivitas belajar lainnya yang mengarah pada persiapan pemecahan masalah.
c)  Stimulasi pada fase ini berfungsi untuk menyediakan kondisi interaksi belajar yang dapat mengembangkan dan membantu siswa dalam mengeksplorasi bahan.
2. Fase 2        : identifikasi masalah (problem identification)
a)  Guru memberi kesempatan kepada siswa untuk mengidentifikasi sebanyak mungkin agenda-agenda masalah yang relevan dengan bahan pelajaran, kemudian salah satunya dipilih dan dirumuskan dalam bentuk diajukan.
3. Fase 3        : pengumpulan data (data collection)
a)  Ketika eksplorasi berlangsung guru berlangsung guru juga memberi kesempatan kepada para siswa untuk mengumpulkan informasi yang relevan sebanyak-banyaknya untuk membuktikan benar atau tidaknya hipotesis
b)  Pada tahap ini berfungsi untuk menjawab pertanyaan atau membuktikan benar tidaknya hipotesis. Dengan demikian peserta didik diberi kesempatan untuk mengumpulkan data berbagai informasi hipotesis (jawaban sementara atas pertanyaan masalah).
b)  Permasalahan yang dipilih itu selanjutnya harus dirumuskan dalam bentuk pertanyaan, atau hipotesis, yakni pertanyaan sebagai jawaban sementara atas pertanyaan yang relevan, membaca literature, mengamati objek, melakukan uji coba sendiri dan sebagainya.
4. Fase 4        : pengolahan data (data processing)
Pengolahan data merupakan kegiatan mengolah data dari sumber-sumber informasi yang kemudian ditafsirkan.
5. Fase 5        : pembuktian (verification)
a)  Peserta didik melakukan pemeriksaan secara cermat untuk membuktikan benar atau tidaknya hipotesis yang ditetapkan tadi dengan temuan alternatif, dihubungkan dengan hasil pengolahan data.
b)  Verifikasi Bruner, bertujuan agar proses belajar akan berjalan dengan baik dan kreatif jika guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan suatu konsep, teori, aturan atau pemahaman melalui contoh-contoh yang ia jumpaidalam kehidupannya.
6.  Fase 6       : menarik kesimpulan (generalization)
a)  Menarik kesimpulan adalah proses menarik sebuah kesimpulan yang dapat dijadikan prinsip umum dan berlaku untuk semua kejadian atau masalah yang sama, dengan memperhatikan hasil verifikasi.
b)  Berdasarkan hassil verifikasi maka dirumuskan prinsip-prinsip yang mendasari verifikasi.
F.        Kelebihan dan kekurangan
a.    Kelebihan metode penemuan terbimbing sebagai berikut:
1.    Membantu siswa memahami konsep dasar dan ide-ide secara lebih baik.
2.    Membantu dalam menggunakan daya ingat dan transfer pada situasi-situasi proses belajar yang baru.
3.    Mendorong siswa berpikir dan bekerja atas ini siatifnya sendiri.
4.    Proses belajar penemuan dibuat “open-ended” sehingga mendorong siswa berpikir inisiatif dan merumuskan hipotesisnya sendiri.
5.    Memberikan kepuasan yang bersifat intrinsik.
6.    Situasi proses belajar menjadi lebih merangsang.
b.    Kekurangan Metode Penemuan Terbimbing
1.    Untuk materi tertentu, waktu yang tersita lebih lama.
2.    Tidak semua siswa dapat mengikuti pelajaran dengan cara ini. Di lapangan, beberapa siswa masih terbiasa dan mudah mengerti dengan metode ceramah.
3.    Tidak semua topik cocok disampaikan dengan metode ini. Umumnya topik-topik yang berhubungan dengan prinsip dapat dikembangkan dengan metode penemuan terbimbing.
Cara untuk mengatasi kekurangan metode ini adalah :
1.  Konsep atau prinsip yang harus ditemukan oleh peserta didik melalui kegiatan tersebut perlu dikemukakan dan di tulis secara jelas.
2.  Susunan kelas diatur sedemikian rupa sehingga memudahkan terlibatnya arus bebas pikiran peserta didik dalam kegiatan belajar – mengajar.
3.  Guru harus memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengumpulkan data.
4.  Guru harus memberikan jawaban dengan tepat dengan data informasi yang diperlukan peserta didik.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar