A.
Pengertian
Model Kooperatif Tipe Teams Games Tournament (TGT)
Saptono, 2008 (dalam Hakim, 2009)
menyatakan bahwa Model Pembelajaran Kooperatif merupakan pembelajaran yang
menitikberatkan pada pengelompokkan siswa dengan tingkat kemampuan akademik
yang berbeda ke dalam kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif yang
anggotanya terdiri dari 4-6 orang dengan struktur kelompok yang heterogen.
Model
pembelajaran kooperatif ada
berbagai macam dan salah satunya yaitu model pembelajaran
kooperatif tipe TGT
(Teams Games Tournament).Model ini pada mulanya dikembangkan oleh David DeVries
dan Keith Edwards.
Menurut Davied Devrie dan
keith Edward (1995) , merupakan pembelajaran pertama dari John
Hopkins.dalam model ini kelas dibagi dalam kelompok-kelompok kecil yang
beranggotakan 3 sampai dengan 5 siswa yang berbeda - beda tingkat kemampuan, jenis
kelamin, dan latar belakang etniknya, kemudian siswa akan bekerjasama dalam
kelompok-kelompok kecilnya.
Menurut Saco
(2006), dalam TGT siswa memainkan permainan-permainan dengan
anggota-anggota tim lain untuk memperoleh skor bagi tim mereka masing-masing.
Permainan dapat disusun guru dalam bentuk kuis berupa pertanyaan-pertanyaan
yang berkaitan dengan materi pelajaran. Kadang-kadang dapat juga diselingi
dengan pertanyaan yang berkaitan dengan kelompok
Menurut Nur
dan Wikandari (2000), menjelaskan bahwa TGT telah digunakan dalam berbagai
macam mata pelajaran dan paling cocok digunakan untuk mengajar pembelajaran
yang dirumuskan dengan tajam dengan satu jawaban benar seperti perhitungan,dan
penerapan berarti matematika dan fakta-fakta serta konsep IPA.
Penerapan Model TGT dalam
pelaksanaanya tidak memerlukan fasilitas pendukung khusus seperti
peralatan atau ruangan khusus. Selain mudah diterapkan dalam penerapannya TGT
juga melibatkan aktivitas seluruh siswa untuk memperoleh konsep yang
diinginkan. Kegiatan tutor sebaya terlihat ketika siswa melaksanakan turnamen
yaitu setelah masing-masing anggota kelompok membuat soal dan jawabannya, untuk
selanjutnya saling mengajukan pertanyaan dan belajar bersama. Sedangkan untuk
memotivasi belajar siswa dalam TGT terdapat unsur penguatan (reinforcement).
Model Pembelajaran Kooperatif TGT
mempunyai banyak manfaat antara lain sebagai alternatif untuk menciptakan
kondisi yang variatif dalam kegiatan belajar mengajar, dapat membantu guru
untuk menyelesaikan masalah dalam pembelajaran, seperti rendahnya minat belajar
siswa, rendahnya aktivitas proses belajar siswa ataupun rendahnya hasil belajar
siswa dan melibatkan aktivitas seluruh siswa tanpa harus ada perbedaan status,
juga melibatkan peran siswa sebagai ”tutor sebaya”.
B.
Tujuan Model Pembelajaran TGT
Proses pembelajaran menggunakan model pembelajaran
TGT miliki beberapa tujuan yang akan diuraikan sebagai berikut:
a. Memberi
kesempatan siswa untuk mengembangkan kemampuan memecahkan masalah secara
rasional,
b. Mengembangkan
sikap sosial dan semangat bergotong royong,
c. Mendinamisasikan
kegiatan kelompok dalam belajar sehingga setiap kelompok merasa memiliki
tanggung jawab,
d. Mengembangkan
kemampuan kepemimpinan dalam kelompok tersebut.
C.
Komponen-komponen model TGT
Model pembelajaran TGT memiliki
beberapa komponen utama. Berikut adalah penjelasan dari komponen – komponen
tersebut:
1. Presentasi
di kelas.
Presentasi
kelas merupakan pengajaran langsung seperti diskusi pelajaran yang dipimpin
oleh guru, atau dapat juga dengan menggunakan presentasi audiovisual.
Presentasi kelas berbeda dengan pengajaran biasa, presentasi kelas harus
benar-benar terfokus pada unit TGT. Sehingga siswa harus dapat benar-benar
memperhatikan selama presentasi kelas, karena akan dapat membantu mereka dalam
melakukan game turnamen.
2.
Tim
Tim
terdiri dari tiga sampai lima siswa yang memiliki komposisi kelompok
berdasarkan kemampuan akademik, ras, etnik, dan gender. Siswa belajar bersama
dalam tim untuk memastikan bahwa setiap anggota kelompoknya telah benar-benar
siap melakukan pertandingan di meja turnamen. Skor turnamen yang diperoleh tiap
individu akan mempengaruhi skor kelompok. Artinya, keberhasilan kelompok sangat
dipengaruhi oleh keberhasilan masing-masing individu dalam kelompok. Belajar
dalam tim biasanya berupa pembahasan permasalahan bersama, membandingkan
jawaban, dan mengoreksi tiap kesalahan pemahaman apabila anggota tim ada yang
membuat kesalahan.
3.
Permainan (Game)
Pertanyaan
dalam game dirancang dari materi yang relevan dengan materi yang telah
disampaikan guru pada presentasi kelas untuk menguji pengetahuan siswa yang
telah diperoleh. Game dimainkan di atas meja dengan tiga atau empat
orang siswa (sesuai jumlah kelompok), perwakilan setiap kelompok. Setiap siswa
mengambil sebuah kartu bernomor dan menjawab pertanyaan sesuai nomor yang
tertera pada kartu.
4.
Turnamen
Turnamen
adalah susunan beberapa game yang dipertandingkan di meja turnamen.
Turnamen dilakukan setelah guru memberikan presentasi kelas dan kelompok
melaksanakan kerja kelompok, biasanya dilaksanakan pada akhir minggu atau akhir
unit. Pada turnamen pertama, guru menempatkan beberapa siswa berkemampuan
tinggi dari setiap kelompok pada meja turnamen 1, siswa berkemampuan sedang di
meja turnamen 2 atau 3, dan siswa berkemampuan rendah pada meja turnamen 4.
Setelah turnamaen pertama, siswa bertukar meja sesuai kinerja mereka pada
turnamen terakhir. Pemenang pada tiap meja “naik tingkat” ke meja berikutnya
yang lebih tinggi dan yang skornya paling rendah “diturunkan”. Penempatan meja
turnamen dapat dilihat pada gambar 2 di bawah ini:
5.
Rekognisi Tim
Tim yang mencapai skor
rata-rata berdasarkan kriteria tertentu akan mendapatkan penghargaan khusus,
seperti sertifikat yang menarik atau menempatkan foto anggota tim mereka di
ruang kelas (Slavin, 2005: 166 – 168). Penghargaan yang diberikan pada tim – tim tersebut dapat
diberikan sesusi dengan Kriteria sebagai berikut:
D. Langkah – Langkah Penggunaan Model
TGT
Dalam penerapan model pembelajaran
TGT, terdapat beberapa langkah – langkah yang telah dikemukakan oleh Slavin dan
Trianto. Berikut adalah langkah – langkah yang harus dikasanakan:
1.
Menurut
Slavin
a. Presentasi
di kelas, Guru mempresentasikan materi di dalam kelas.
b. Belajar
tim, Para siswa mengerjakan lembar kegiatan dalam tim mereka untuk menguasai
materi.
c. Turnamen,
Para siswa memainkan game akademik dalam kemampuan yang homogen.
d. Rekognisi
tim, Skor tim dihitung berdasarkan skor turnamen anggota tim, dan tim tersebut
akan direkognisi apabila mereka berhasil melampaui kriteria yang telah
ditetapkan sebelumnya.
2. Menurut
Trianto
a. Siswa
ditempatkan dalam tim belajar beranggotakan empat orang yang merupakan campuran
menurut tingkat prestasi, jenis kelamin, dan suku.
b. Guru
menyiapkan pelajaran, dan kemudian siswa bekerja di dalam tim mereka untuk
memastikan bahwa seluruh anggota tim telah menguasi pelajaran tersebut.
c. Seluruh
siswa dikenai kuis, pada waktu kuis ini mereka tidakdapat saling membantu.
E.
Kelebihan
dan Kekurangan tipe TGT
Model pembelajaran kooperatif
tipe Teams Games Tournament (TGT) juga memiliki kelebihan dan
kekurangan sebagai berikut.
1. Kelebihan Model Pembelajaran TGT
yaitu:
a)
dapat
mendorong dan mengkondisikan berkembangnya sikap dan keterampilan sosial siswa,
meningkatkan hasil belajar, serta aktivitas siswa,
b)
lebih
meningkatkan pencurahan waktu untuk tugas,
c)
mengedepankan
penerimaan terhadap perbedaan individu,
d)
dengan
waktu yang sedikit dapat menguasai materi secara mendalam,
e)
proses
belajar mengajar berlangsung dengan keaktifan dari siswa,
f)
mendidik
siswa untuk berlatih bersosialisasi dengan orang lain,
g)
motivasi
belajar lebih tinggi, dan
h)
meningkatkan
kebaikan budi, kepekaan dan toleransi.
2. Kelemahan TGT yaitu sebagai berikut.
a)
Bagi
guru
Sulitnya pengelompokan siswa yang
mempunyai kemampuan heterogen dari segi akademis. Kelemahan ini akan dapat
diatasi jika guru yang bertindak sebagai pemegang kendali teliti dalam
menentukan pembagian kelompok.
Waktu yang dihabiskan untuk diskusi
oleh siswa cukup banyak sehingga melewati waktu yang sudah ditetapkan.
Kesulitan ini dapat diatasi jika guru mampu menguasai kelas secara menyeluruh.
Guru harus benar – benar memilih
materi yang sesuai ketika menggunakan model belajar ini. Hal ini dikarenakan
tidak semua materi dapat diberikan dengan mnggunakan model TGT.
b)
Bagi
siswa
Masih adanya siswa berkemampuan
tinggi kurang terbiasa dan sulit memberikan penjelasan kepada siswa lainnya.
Untuk mengatasi kelemahan ini, tugas guru adalah membimbing dengan baik siswa
yang mempunyai kemampuan akademik tinggi agar dapat dan mampu menularkan
pengetahuannya kepada siswa yang lain.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar